Bukittinggi, 12 Mei 2026 – Program Studi Bimbingan dan Konseling sukses menyelenggarakan Bukittinggi International Counseling Conference (BICC) 2026 dengan mengangkat tema “Cultural Wisdom in Modern Counseling: Integrating Indigenous Values into Global Mental Health.” Kegiatan internasional ini menjadi wadah pertukaran gagasan dan pengalaman akademik terkait integrasi nilai-nilai budaya lokal dalam praktik konseling dan kesehatan mental global.
Konferensi yang berlangsung pada 12 Mei 2026 ini merupakan hasil kolaborasi antara Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Bimbingan dan Konseling dengan mahasiswa semester VI. Kegiatan tersebut digagas sebagai bagian dari upaya pengembangan wawasan internasional mahasiswa sekaligus memperkuat jejaring akademik dalam bidang bimbingan dan konseling.
Ketua Program Studi Bimbingan dan Konseling Yeni Afrida, M.Pd menyampaikan apresiasi kepada HMPS dan mahasiswa semester VI yang telah bekerja keras dalam merancang dan melaksanakan kegiatan berskala internasional tersebut. Menurutnya, keterlibatan mahasiswa dalam penyelenggaraan konferensi menjadi pengalaman berharga untuk mengembangkan kemampuan kepemimpinan, komunikasi, dan manajemen kegiatan akademik.
Konferensi menghadirkan sejumlah pembicara dari empat negara yang memiliki kompetensi dan pengalaman luas dalam bidang konseling serta kesehatan mental. Narasumber internasional yang hadir yaitu Assoc. Prof. Dr. Sabbar Dahham Sabbar dari Yordania, Assoc. Prof. Dr. Hijrah Saputra dari Abu Dhabi, dan Wawasadhya, M.Phil. dari Skotlandia. Sementara itu, Indonesia diwakili oleh dua akademisi bidang bimbingan dan konseling, yaitu Dr. Nurfarhanah, M.Pd., Kons. dan Dr. Fadhilla Yusri, M.Pd., Kons.





Dalam sesi presentasi, para pembicara membahas pentingnya pemanfaatan nilai-nilai budaya lokal sebagai fondasi dalam pengembangan layanan konseling yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Berbagai pengalaman dari masing-masing negara menunjukkan bahwa pendekatan kesehatan mental yang memperhatikan identitas budaya mampu meningkatkan efektivitas layanan sekaligus memperkuat kesejahteraan psikologis individu.
Tema yang diangkat dalam konferensi ini mendapat perhatian besar dari peserta karena relevan dengan tantangan kesehatan mental di era globalisasi. Para pembicara menegaskan bahwa modernisasi dan perkembangan teknologi tidak seharusnya menggeser nilai-nilai budaya yang telah menjadi sumber kekuatan masyarakat. Sebaliknya, kearifan lokal perlu diintegrasikan ke dalam praktik konseling modern agar layanan yang diberikan lebih kontekstual, inklusif, dan bermakna.
Selain sesi keynote speaker, kegiatan juga diisi dengan diskusi interaktif yang memberikan kesempatan kepada peserta untuk bertukar pandangan mengenai isu-isu kesehatan mental lintas budaya. Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan dan tanggapan yang muncul selama konferensi berlangsung.
Ketua HMPS Bimbingan dan Konseling tahun 2026 Rafli Dwilianto menyampaikan bahwa BICC 2026 merupakan bukti bahwa mahasiswa mampu berkontribusi dalam penyelenggaraan kegiatan akademik bertaraf internasional. Melalui kerja sama yang solid antara HMPS, mahasiswa semester VI, dosen, dan pihak program studi, konferensi dapat terlaksana dengan lancar dan sukses.
Dengan terselenggaranya Bukittinggi International Counseling Conference (BICC) 2026, Program Studi Bimbingan dan Konseling berharap dapat terus memperluas jejaring internasional, meningkatkan budaya akademik, serta mendorong lahirnya gagasan-gagasan inovatif dalam pengembangan konseling berbasis budaya untuk menjawab berbagai tantangan kesehatan mental masyarakat global.
