Bukittinggi — Program Studi Magister (S2) Bimbingan dan Konseling, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK), UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, menyelenggarakan kegiatan Studium General dengan tema “NEUROCOUNSELING: Memahami Perilaku, Emosi, dan Spiritualitas Manusia Perspektif Neurosains untuk Praktik Bimbingan dan Konseling yang Humanis dan Islami.” Kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu, 21 Oktober 2026, pukul 08.00–11.00 WIB secara daring melalui Zoom Meeting.

Kegiatan ini menghadirkan Prof. Ifdil, S.HI., S.Pd., M.Pd., Ph.D., Kons., Guru Besar bidang Ilmu Konseling dengan spesialisasi konseling trauma di Universitas Negeri Padang (UNP), sebagai narasumber. Kegiatan dipandu oleh Erria Nanda Utama, salah seorang mahasiswi Program Studi Magister (S2) Bimbingan dan Konseling, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, yang bertindak sebagai moderator.
Acara diawali dengan pembukaan dan dilanjutkan dengan sambutan pimpinan. Sambutan pertama disampaikan oleh Dr. Arjoni, M.Pd., selaku Ketua Program Studi Magister (S2) Bimbingan dan Konseling. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan pentingnya kegiatan Studium General sebagai sarana pengembangan wawasan akademik dan penguatan kompetensi mahasiswa dalam mengikuti perkembangan ilmu bimbingan dan konseling. Kegiatan ini juga diharapkan dapat memperkaya perspektif keilmuan mahasiswa dalam memahami dinamika perilaku, emosi, dan spiritualitas manusia melalui pendekatan yang relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan.
Sambutan berikutnya disampaikan oleh Dr. Junaidi, M.Pd., selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi. Dalam kesempatan tersebut, beliau sekaligus membuka kegiatan Studium General secara resmi. Pelaksanaan kegiatan ini menjadi bagian dari upaya penguatan atmosfer akademik di lingkungan fakultas, khususnya dalam mendorong pengembangan keilmuan bimbingan dan konseling yang adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, tetap berlandaskan nilai-nilai keislaman, serta berorientasi pada peningkatan kualitas layanan kepada masyarakat.

Memasuki acara inti, Prof. Ifdil menyampaikan kajian mengenai Neurocounseling sebagai pendekatan yang mengintegrasikan pemahaman neurosains dengan teori dan praktik bimbingan dan konseling. Kajian ini memberikan wawasan mengenai pentingnya memahami fungsi otak dan sistem saraf dalam kaitannya dengan perilaku, respons emosional, proses berpikir, serta pengalaman psikologis manusia.
Perspektif neurosains memberikan landasan tambahan bagi konselor untuk memahami konseli secara lebih komprehensif. Melalui pemahaman tersebut, konselor diharapkan mampu mempertimbangkan berbagai faktor yang memengaruhi kondisi individu, termasuk aspek biologis, psikologis, sosial, dan spiritual, sehingga proses konseling dapat dilaksanakan secara lebih tepat, empatik, dan sesuai dengan kebutuhan konseli.
Selain membahas aspek neurosains, kegiatan ini juga menyoroti pentingnya praktik bimbingan dan konseling yang humanis dan Islami. Pendekatan humanis menempatkan individu sebagai pribadi yang memiliki keunikan, potensi, dan kebutuhan yang perlu dihargai. Sementara itu, perspektif Islami memberikan perhatian terhadap nilai-nilai spiritual dan keagamaan sebagai bagian yang relevan dalam mendampingi individu menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Perpaduan kedua perspektif tersebut diharapkan dapat memperkaya pemahaman konselor dalam memberikan layanan yang profesional, berempati, dan menghargai martabat manusia.
Kegiatan Studium General ini diikuti oleh dosen, mahasiswa Program Studi Magister (S2) Bimbingan dan Konseling, alumni, serta para pemangku kepentingan (stakeholders). Partisipasi berbagai unsur tersebut menunjukkan pentingnya kolaborasi dalam pengembangan keilmuan dan peningkatan mutu pendidikan bimbingan dan konseling. Kegiatan ini juga menjadi wadah untuk memperluas wawasan, bertukar pengetahuan, serta memperkuat hubungan akademik antara perguruan tinggi dan para praktisi maupun pemangku kepentingan.
Melalui kegiatan ini, Program Studi Magister Bimbingan dan Konseling FTIK UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi berharap para peserta memperoleh pemahaman yang lebih luas mengenai relevansi neurosains dalam praktik bimbingan dan konseling. Pengetahuan tersebut diharapkan dapat menjadi bekal dalam mengembangkan layanan konseling yang lebih komprehensif, humanis, profesional, dan berlandaskan nilai-nilai Islam.
Penyelenggaraan Studium General ini sekaligus menegaskan komitmen Program Studi Magister Bimbingan dan Konseling dalam memperkuat budaya akademik, meningkatkan kompetensi mahasiswa dan dosen, serta mendorong pengembangan keilmuan yang responsif terhadap tantangan zaman. Dengan demikian, kegiatan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif bagi peningkatan kualitas pendidikan dan praktik bimbingan dan konseling, baik di lingkungan perguruan tinggi maupun dalam pelayanan kepada masyarakat luas.
