BUKITTINGGI – Perkembangan dan capaian belajar anak tidak dapat dipahami secara sederhana hanya dari sisi bakat bawaan atau pengaruh lingkungan semata. Hal tersebut disampaikan oleh Dr. Irwandi, Dosen Program Studi Magister (S2) Tadris Bahasa Inggris, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, dalam kegiatan pelatihan pendidik.
Menurut Dr. Irwandi, pendidikan idealnya memandang anak sebagai individu yang telah membawa potensi genetik sejak lahir, namun tetap membutuhkan lingkungan yang tepat agar potensi tersebut dapat berkembang secara optimal. “Anak bukan kertas kosong. Ia membawa kecenderungan dasar, baik dari sisi temperamen maupun kecerdasan. Namun genetik bukanlah takdir yang final,” jelasnya.
Ia menyampaikan hal tersebut dalam pelatihan bertajuk “Super Teacher, Super Teaching” yang diikuti oleh pendidik SD Islam 67 Al Azhar Bukittinggi, Sabtu (20/12/2025). Dalam paparannya, Dr. Irwandi menegaskan bahwa lingkungan pendidikan memiliki peran strategis dalam menentukan arah perkembangan anak.

“Gen hanya menyediakan kemungkinan. Lingkungan—terutama sekolah dan keluarga—yang menentukan apakah kemungkinan itu tumbuh atau justru terhambat,” ujarnya.
Sebagai dosen S2 Tadris Bahasa Inggris, Dr. Irwandi mencontohkan bagaimana pemahaman terhadap karakter dan potensi siswa sangat penting dalam proses pembelajaran. Anak dengan energi fisik tinggi, misalnya, sering kali dilabeli negatif. Padahal, dengan pendekatan pembelajaran yang tepat, seperti pembelajaran berbasis proyek atau aktivitas kolaboratif, energi tersebut dapat diarahkan menjadi potensi positif.
Ia juga menyinggung konsep norma reaksi, yaitu rentang kemungkinan perilaku yang dapat muncul dari satu potensi genetik dalam kondisi lingkungan yang berbeda. Konsep ini, menurutnya, menegaskan bahwa tidak ada satu pola perkembangan yang sama bagi setiap anak.
“Pendekatan ini menuntut pendidik untuk lebih adaptif dan reflektif, serta menghindari pelabelan dini terhadap peserta didik,” tambahnya.
Lebih lanjut, Dr. Irwandi menekankan bahwa lingkungan belajar tidak hanya terbatas pada ruang kelas, tetapi juga mencakup iklim psikologis, relasi guru dan siswa, serta keterlibatan keluarga. Oleh karena itu, sistem pendidikan perlu dirancang secara inklusif dan fleksibel agar mampu mengakomodasi keberagaman potensi peserta didik.
“Pendidikan bukan soal memilih antara bakat atau lingkungan, melainkan bagaimana menciptakan ekosistem yang memungkinkan potensi setiap anak berkembang secara optimal,” pungkasnya
