UIN Bukittinggi Gelar Workshop Kurikulum Cinta, Perkuat Karakter dan Budaya Madrasah di Era Digital

Bukittinggi, Sumatera Barat – Pusat Kajian Kurikulum Cinta (PKKC) UIN Bukittinggi menggelar Workshop Kurikulum Cinta selama tiga hari, mulai 9 hingga 11 Juni 2026, di Madrasah Labor UIN Bukittinggi Garegeh. Kegiatan ini diikuti oleh guru dan tenaga kependidikan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas pembelajaran, penguatan karakter, serta pengembangan budaya madrasah yang berlandaskan nilai-nilai cinta, kepedulian, dan kemanusiaan.

Workshop ini merupakan program penguatan kapasitas pendidik dalam mengimplementasikan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang saat ini menjadi salah satu pendekatan inovatif dalam pengembangan pendidikan Islam. Selama tiga hari, peserta mendapatkan berbagai materi mulai dari filosofi Kurikulum Cinta, implementasi nilai-nilai cinta dalam pembelajaran, penguatan karakter dan budaya madrasah, pengembangan media ajar inovatif, pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), hingga penyusunan modul ajar berbasis deep learning dan KBC.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Pusat Kajian Kurikulum Cinta UIN Bukittinggi dengan menghadirkan sejumlah akademisi dan pakar pendidikan sebagai narasumber, antara lain Dr. Junaidi, Dr. Wedra Aprison, Dr. Charles, Dr. Supriadi, Dr. Supratman, Prof. Zulfani Sesmiarni, Dr. Fadhila Yusri, dan Dr. Salmi. Peserta workshop berasal dari kalangan guru dan tenaga kependidikan yang berkomitmen meningkatkan kualitas layanan pendidikan di madrasah.

Workshop berlangsung selama tiga hari berturut-turut, yakni Selasa–Kamis, 9–11 Juni 2026, dengan rangkaian kegiatan mulai pukul 08.00 WIB hingga 16.00 WIB setiap harinya.

Seluruh kegiatan dipusatkan di Madrasah Labor UIN Bukittinggi, Garegeh, yang menjadi salah satu laboratorium pendidikan dan pengembangan inovasi pembelajaran di lingkungan UIN Bukittinggi.

Ketua penyelenggara menjelaskan bahwa tantangan pendidikan abad ke-21 tidak hanya menuntut penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga penguatan karakter, akhlak, empati, dan kepedulian sosial peserta didik. Oleh karena itu, Kurikulum Berbasis Cinta hadir sebagai pendekatan yang menempatkan hubungan kemanusiaan, kasih sayang, dan penghormatan terhadap martabat peserta didik sebagai fondasi utama proses pendidikan.

Selain itu, perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan menuntut guru untuk terus beradaptasi agar mampu menghadirkan pembelajaran yang relevan, kreatif, dan bermakna tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaan.

Workshop dirancang secara partisipatif melalui kombinasi ceramah, diskusi, praktik, dan presentasi hasil kerja peserta. Hari pertama difokuskan pada pemahaman konsep dan filosofi Kurikulum Cinta serta penguatan karakter dan budaya madrasah. Hari kedua membahas inovasi media pembelajaran dan pemanfaatan AI dalam pendidikan, yang dilanjutkan dengan praktik pembuatan media ajar. Pada hari ketiga, peserta dilatih menyusun modul ajar berbasis deep learning dan KBC, kemudian melakukan review dan bedah modul bersama para narasumber.

Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan tidak hanya memahami konsep Kurikulum Berbasis Cinta secara teoritis, tetapi juga mampu mengimplementasikannya dalam proses pembelajaran sehari-hari sehingga terwujud madrasah yang unggul, berkarakter, inovatif, dan berdaya saing.

Dr. Charles, yang menjadi salah satu narasumber pada sesi penguatan karakter dan budaya madrasah, menegaskan bahwa pendidikan yang berhasil bukan hanya melahirkan peserta didik yang cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki akhlak mulia, kepedulian sosial, serta kecintaan terhadap lingkungan dan kemanusiaan.

“Kurikulum Cinta bukan sekadar konsep pembelajaran, melainkan gerakan membangun budaya pendidikan yang memanusiakan manusia, menguatkan karakter, dan menumbuhkan kesadaran untuk hidup berdampingan secara harmonis,” ujarnya.

Melalui Workshop Kurikulum Cinta ini, UIN Bukittinggi kembali menegaskan komitmennya untuk menjadi pusat pengembangan inovasi pendidikan Islam yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai moral, spiritual, dan kemanusiaan.